Dhora Astia Nuraga Polisi Nyentrik Yang Menjadi Pembalap

Spread the love

Oleh : Arief Priyo Baskoro Guru MAN 4 Jombang

Pagi itu penampilannya parlente, menggunakan stelan jas, berdasi dipadukan dengan gaya rambut mohawk kesukaannya. Karena ada acara resmi yang harus diikuti. Bagi orang yang pertama kali melihatnya mungkin tidak akan mengira bahwa dia adalah anggota polisi. Dhora Astia Nuraga adalah nama lengkapnya. Di kalangan komunitas dan followersnya dia dikenal dengan nama Dhora Smile. Anggota polisi berpangkat Bripka yang berasal dari Satres Narkoba Polrestabes Palembang.

Polisi yang kerap berpenampilan stylish dan fashionable ini adalah sosok yang unik. Bagaimana tidak selain menjalankan profesinya sebagai seorang polisi dia juga menekuni hobi yang selama ini dianggap berseberangan dengan profesi polisi yaitu menjadi seorang pembalap. Unik bukan? Menurutnya menjadi polisi adalah cita-cita sejak kecil yang terwujud menjadi kenyataan. Ada tanggung jawab besar yang diemban karena bertugas dalam satuan yang memerangi dan memberantas peredaran narkoba. Menurutnya bekerja dengan sepenuh hati dan bertanggung jawab adalah sebuah wujud syukur atas tecapainya cita-cita masa kecil dulu.

Di sela kesibukannya sebagai anggota polisi ayah Beverly dan Evelyn ini tetap menyempatkan menekuni hobinya. Hobi yang mungkin dianggap menyimpang atau berseberangan dengan profesi polisi, menjadi pembalap. Jauh sebelum menjadi polisi dia memang menekuni bidang olah raga yang identik dengan kecepatan dan kaum adam ini.

Dia sengaja memilih jalur resmi bukan balapan liar yang dianggap kerap merugikan pengguna jalan umum. Berawal dari balap roda dua yang dia tekuni sejak sekolah menengah atas sampai dia dilantik menjadi anggota polisi. Belakangan dia beralih ke balap roda empat, ajang drag race mobil yang kini jadi ajang penyaluran hobinya. Menurutnya seiring bertambahnya usia passion dalam ajang adu kebut roda dua mulai menurun. “Udah gak muda lagi mas, anakku juga sudah dua cari yang lebih safety aja,” begitu jawabnya ketika ditanya kenapa beralih ke balap mobil.

Banyak prestasi yang pernah dia raih, sederet thropy berjajar di rumahnya. Sebuah kebanggan tersendiri tentunya. “Bisa buat cerita nanti di masa depan mas,” begitu ujarnya. Mungkin ada benarnya meraih prestasi dalam sebuah kompetisi memiliki sebuah sensasi yang tak terbeli. Kelak hal iti bisa menjadi cerita pengantar tidur untuk anak cucu yang mungkin juga dapat menjadi support system untuk meraih prestasi. Tentu saja tidak harus dalam ajang yang sama.

Baginya menjadi seorang polisi sekaligus pembalap bukanlah sebuah perilaku menyimpang. Karena yang dia tekuni adalah sebuah ajang kompetisi resmi yang tidak menyalahi peraturan di republik ini. Berbeda dengan balap liar yang merugikan pengguna jalan umum bahkan sampai menimbulkan banyak korban jiwa. Fenomena balap liar memang banyak ditemukan di berbagai daerah, para pelakunya adalah anak muda yang masih dalam usia produktif. Padahal sebenarnya mereka dapat menyalurkan bakat dan hobinya dalam jalur resmi yang lebih baik dalam segi keamanan dan tentu saja prospek ke depannya.

Ada kisah pilu di balik kesuksesan yang dia raih. Mungkin tidak ada yang menyangka dibalik sikapnya yang humble dan murah senyum ada kisah pedih di masa lalunya. Ya seorang Dhora kecil harus menjadi anak piatu ketika dia masih balita. Ibundanya meninggal setelah berjuang melawan sakitnya. Sebagai anak tunggal diapun menjalani hari hanya dengan sang ayah. Sampai suatu ketika ayahnya menikah lagi, sehingga dia memiliki ibu sambung. Beruntung dia mendapatkan ibu sambung yang sangat menyayanginya dan memberikan support saat dia memulai terjun dalam dunia balap. Tapi cobaan datang lagi, ayahnya menghadap Yang Maha Kuasa saat dia masuk SMA.

Beratnya cobaan ternyata mengasah pribadinya. Hal ini dia buktikan saat mengikuti seleksi penerimaan bintara polri dan dia lulus. Aku sendiri masih ingat saat dia pertama kali pulang selepas pendidikan, dengan masih mengenakan seragam polri dia ke makam orang taunya. Dia tumpahkan isi hatinya, menangis di depan pusara kedua orang tuanya. “Pak, Bu cita-citaku tercapai, aku jadi polisi. Semoga bapak dan ibu bangga di sana,’ uacapnya kala itu.

Apa yang dia raih merupakan contoh bahwa sebuah bakat itu bisa menghasilkan kebanggaan jika disalurkan pada jalur yang benar. Sebaliknya bakat bisa menjadi senjata makan tuan ketika salah mengambil keputusan. Menjadi seorang polisi sekaligus pembalap adalah sebuah keunikan sekaligus fenomena langka, sebuah anomali. Ibarat pepatah sekali dayung dua tiga pulau terlapaui, hobi tetap tersalurkan dan prestasi dalam genggaman. Dia bisa menjadi salah satu role model untuk kaum muda millenial. Sebagaimana kita ketahui banyak kaum muda berbakat dalam dunia balap di negeri ini. Tapi sayang banyak juga yang salah menyalurkan bakatnya sehingga berujung pada masalah. Darinya generasi muda bisa belajar bahwa bakat yang dicap oleh masyarakat umum identik dengan kebut-kebutan di jalan raya itu jika disalurkan dengan benar, bukan hanya menghasilkan prestasi membanggakan tapi juga bisa menghasilkan pundi-pundi rupiah.

Mungkin Anda juga menyukai

3 Respon

  1. As long as there is a network, remote real – Time recording can be performed without special hardware installation.

  2. Avatar 슬롯사이트 berkata:

    qiyezp.com
    황제가 자신을 보았습니까? 그는 엿보는 자신을 발견 했습니까?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *