MURIDMU SATU JALAN SURGAMU

Spread the love
Edi Nurwanto Guru MTs N 4 Madiun

Oleh: Edi Nurwanto, S.Pt, S.Pd*

Retno nama Muridku dahulu saat aku masih mengajar di MTsN Kembangsawit, sekarang aku mengajar di MTsN 4 Madiun, Retno duduk dibangku kelas 9A MTsN Kembangsawit Kebonsari Madiun, yang sekarang MTsN 3 Madiun. Dengan postur tubuh yang tidak besar dan tiak kecil, selalu banyak senyum sendiri dan memiliki keasikan sendiri dibanding temannya. Aku mengetahui namanya Retno karena waktu itu salah satu tugasku mengurusi dana BSM ( Bantuan Siswa Miskin ). Hampir setiap hari teman teman guru mengunjing dan membahas tentang Retno yang berpenampilan beda dengan temannya, kadang terlihat aneh dan kadang terlihat nyentrik dengan penampilan yang beda baik seragam maupun kelakuannya.

Tugasku sebagai pengelola BSM, banyak anak yang mendapatkannya, baik mengajukan sendiri maupun ajuan dari wali kelas masing- masing, termasuk Retno adalah ajuan dari Wali kelas. Untuk mendapatkan BSM waktu itu syarat yang harus dimiliki adalah SKTM (Surat Keterangan Tidak Mampu) dari desa, dalam pengelolan BSM aku dibantu oleh teman sejawatku, dia selalu marah-marah jikalau ada siswa yang tidak segera mengumpulkan persyaratan. Hampir setiap hari dilakukan cek siapa yang belum mengumpulkan persyaratan BSM. Setelah aku cek sendiri dan aku telusuri, sebagian besar yang belum mengumpulkan persyaratan adalah anak-anak yang broken, betul-betul miskin dan bahkan terjadi anak yatim piatu terlewatkan karena tidak memenuhi persyaratan karena dan tidak ada yang memintakan surat ke desa. Untuk meloloskan BSM ada yang aku palsukan SKTM nya, semoga Alloh mengampuni dosaku demi anak anak yang betul-betul membutuhkan.

Retno adalah salah satu siswa yang sering dapat semprot dan omelan dari rekan guru, bahkan dari teman-teman karena keanehan dan ketidak pedulian pada diri dan lingkungannya, yang terkesan cuek dan menyepelekan. Dalam penelusuran yang aku lakukan baru ku ketahui siapa Retno yang sebenarnya, Retno yang aneh dan nyentrik adalah putra dari ayah seorang tukang pijat tuna netra dan ibu seorang buruh cuci rumah tangga. Retno Sekolah sambil mondok di pondoh Tahfidz Mr Bob Kebonsari, yaitu pondok tahfidz yang menampung anak-anak tidak mampu untuk tinggal di pondok beliau.

Walaupun aku belum kenal dengan baik Retno akupun ikut hanyut membahasnya, Pernah suatu suatu waktu dalam studytour tidak sengaja aku mengamati seorang anak yang bajunya nyleneh, selalu menyendiri dan membuat orang lain untunk mengomentari dan menggujingnya, retno selalu jalan – jalan sendiri rasa iba dan heran berkecamuk.

Baca Juga : MAN 1 NGANJUK GELAR WORKSHOP IKM

Dua tahun berjalan Retno telah menyelesaikan tugas belajarnya dan naik kelas 9A, tidak sengaja dan tidak sy kehendaki Alloh memberi amanah ke aku sebagai wali kelas 9 A. Dalam Pembelajaran memang serasa aku Rasakan keanehan pada seorang diri Retno, akan tetapi tidak aku ambil pusing, penting aku jalani dengan ikhlas.

Setiap Akhir Materi aku adakan Kuis, kebetulan aku mengajar IPA, aku beri soal fisika sejumlah 3 nomor soal uraian dengan katogori yang mudah, sedang dan sulit. Kejadian aneh yang aku alami dalam mengkoreksi soal milik Retno ada tulisan dan gambar yang bikin aku kaget “ Pak Edi… mohon maaf aku tidak bisa mengerjakan soal no 2 dan no 3, jadi aku tidak aku kerjakan , terus aku buat gambar Naruto….” .

Melihat jawaban dari soal ulangan ada rasa marah campur bingung, akhirnya aku tulis komentar di bawah jawaban dan gambar “ Gak apa-apa penting semangat dan belajar”. Kejadian sering berulang dan aku selalu memberi komentar pada setiap penugasan yang dikumpulkannya.

Kejadian yang lebih mengagetkan lagi suatu ketika ulangan Harian, waktu itu anak-anak serius mengerjakan soal dalam keaadaan hening Retno berulah, dengan melepaskan gagang jendela dengan keras, yang menyebabkan teman sekelasnya kaget dan marah-marah, Retno menangis sejadi-jadinya… akupun mengendalikan marah… begitulah kejadian –kejadian yang sering terjadi.

Alhamdilillah, kelas 9A berhasil menyelesaikan tugas belajanya hingga lulus termasuk retno. Dalam penantian ijasah siswa dimasukkan secara bergilir, dalam pengarahan menjelang kelulusan, anak-anak berlomba dan antusias untuk tanya jawab, dan Retno pun berusaha ingin mengutarakan pendapat dan bertanya, akan tetapi apa respon temannya selalu menghalangi dengan kata-kata yang macem-macem agar retno tidak berkomentar. Dalam kesempatan ini aku suruh diam semua dan memberi kesempatan pada Retno untuk bertanya, akhirnya retno bertanya, dan dia berkata…

“Pak Edi aku senaaaaang dia ajar paka Edi, walau aku nakal pak Edy tidak pernah me marahi aku…..”

semua terdiam dan terus mendengarkan perkataan retno. Retno meneruskan perkataaannya.

”Pak Edi … Jikalau Pak Edi Besuk masuk surga dahulu… Tolong akui aku pernah menjadi Murid Pak Edi…. aku mohon maaf kesalahan aku.. “ semu terdiam dan ada yang menitikan air mata termasuk diriku.

Dari pertanyaan itu aku jawab “Insyaalloh semoga kita semua menjadi ahli surga amiiin.” demikin cerita di MTsN Kembangsawit.

Berlalu dari MTsN Kembangsawit Retno melanjutkan di MAN Kembangsawit, dalam perjalanan pulang kerja sering aku berpapasan dengan Retno yang pulang sekolah dengan bersepeda mini yang sederhana. Setiap dalam perjumpaan, retno selalu berteriak “pak Ediiii…” sambil melambaikan tangannya… Begitu trenyuh kurasakan setiap ketemu dengannya

Tidak aku sadari dan tidak aku angan-angan seorang diri Retno, dalam masa pandemi di Hari Raya, yang orang lain dilarang untuk silaturohmi justru aku dapat tamu Retno dan temannya dari madura yang tidak pulang kampung.

Dalam silaturohmi kaget dan agak heran kurasakan, dengan kehadiran Retno karena keanehan masih tersirat di performennya … yaitu dari kata-kata yang aneh..

“ Pak Edi…. Assalamualaikum wr wb…

Aku jawab salamya “WalaikumSalam wrwb… ..”

“ Bunda mana Pak Edi …” retno memanggil Istri aku dengan Bunda, karena memang istri aku adalah guru juga di MTsn Kembangsawit.

“ Pak edi… aku minta sangunya nggeh….” aku jawab “yaaaaa…”

“aku nanti bawa jajan nggeh…..” aku jawab “ nggeh…, pilih saja yang kamu mau…”

Begitu singkat dia ingin pulan dan pamitan, tetapi aku tahan dan aku bertanya, bagaimana kabarmu Retno sehat… hafalanmu sudah berapa jus……

Tidak secuil jawaban yang terlontar dari bibir retno, dan kuulang sekali lagi pertanyaan itu, aku Cuma dapat senyuman dari bibir Retno, akupun tidak memaksanya untuk menjawab .

Karena tidak dapat jawaban dari retno aku coba tanya kepada temannya …” Nak retno sudah dapat hafalan berapa jus ….. walau dengan berat hati menjawab, akhitnya aku dapat jawaban dari teman retno. “ Retno insyallon dah hafal 25 jus pak edi…. “

Terkejut dan haru campur aduk rasa dalam hati ini…. sampai tidak bisa berkomentar…

Dari jawaban akhirnya aku jawab… Semoga kamu semua bisa mengkhatamkan dan memmutqinkan 30 Jus… dan semoga kita semua menjadi ahlul quran amiin…

Dengan keheningan kembali aku tanya kepada retno…

“ Retno ingatkah pertanyaan yang kamu sampaikan waktu di MTsN dulu….’ Retno pun menjawab “ Masih ingat pak Edy…”

‘Sekarang giliran pak Edy memohon pada mu….” dengan mata berkaca-kaca kulontarkan permohonan pada Retno…

“ Retno.. dulu kamu yang mohon surga, jika pak Edy masuk surga duluan akui retno pernah menjadi muridmu, sekarang pak Edi Mohon Jikalau Retno besuk masuh surga duluan Tolong akui pak Edy pernah menjadi Gurumu….” retno pun menjawab “ Insyaalloh Pak Edy…”

Dengan mendesir hati ini mengijin kan retno berpamitan pulang, dengan memberi apa yang dia minta dalam awal bertamu, akan tetapi Retno menolak jajan dan uang sangu yang semula ia minta, akan tetapi dia Cuma membawa pulang dua biji pisang ulin dengan berkata “akan aku bawa ke pondok pak Edy…”

Retno adalah salah satu dari ribuan siswa dengan keterbatasan yang dimilikinya, namun memiliki semangat dan mendapat anugrah kelebihan dari Alloh SWT yang jarang di mengerti dan diberikan kepada orang lain …

Retno tidak butuh cacian, ejekan dan bullyan. Kelembutan kasih akung dari hati yang tulus yang Retno butuhkan.

Aku hanya menceritakan cerita hidup salah satu siswa aku, dari cerita ini kita sebagai Pendidik, khususnya yang memiliki siswa berkebutuhan khusus hendaknya lebih memperhatikan perasaan mereka. Tidak hanya perhatian kelebihannya semata namun kita juga harus juga perhatian terhadap kekurangan mereka.

Tidak ada siswa yang bodoh , terkadang kita yang bodoh untuk menerima keadaan…. Karen setiap manusia memiliki takdir dan firah yang baik ….

Dari retno aku belajar banyak hal, belajar tentang rasa syukur, belajar untuk terus bersemangat, belajar untuk terus bersemangat meski mengalami kesulitan, belajar tentang kesederhanaan. Semoga aku mampu menjadi pendidik yang mengajar dengan hati dan kasih akung. Amin

*Penulis adalah guru MTsN 4 Madiun

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan