KYAI SUYUTI MISBAH: PUTRA KAKANWIL YANG MEMILIH MENJADI WI

Spread the love

Salah satu Putra Kakanwil Pertama Jawa Timur dan MUI Jatim era 90an Almarhum Kyai Misbah

Dr. H. Sholehuddin M.Pd.i saat bersama salah satu putra Kakanwil Jatim pertama Kyai Suyuti Misbah
Dr. H. Sholehuddin M.Pd.i saat bersama Kyai Suyuti Misbah

Jika pernah mendengar nama Kyai Misbah Ketua Majelis Ulama Indonesia Jawa Timur di era 90-an, Kyai Misbah juga merupakan Kakanwil (Kepala Kantor Wilayah Kemenag ) Jawa Timur pertama. Sosok di samping saya adalah salah satu putra Kakanwil jawa timur pertama almarhum (Kyai Misbah) tersebut. Namanya adalah H. Suyuti Misbah

Saya mengenal H. Suyuti Misbah ketika beliau beralih fungsi dari kepala seksi Pergurais di Bidang Madrasah menjadi widyaiswara di Balai Diklat Keagamaan Surabaya. Saya termasuk yunior beliau.

Orangnya low profile, humoris, sederhana dan suka silaturrahim. Setelah purna 11 tahun lalu, kebiasaan berkunjung masih beliau jaga. Mungkin barakahnya silaturrahim, di usia 72 tahun beliau masih tampak sehat. Kemarin (Kamis, 9/6) misalnya, beliau sambang kantor. Saya baru balik dari kegiatan luar.

Kelebihan beliau suka membantu orang. Caranya dengan memanfaatkan jaringan beliau yang masih ada. Saya belajar anfa’linnas, memanfaatkan kolega untuk membantu orang juga dari beliau.

Keluarga egaliter dan moderat

Baca juga : FULL TIM: KEMENAG KAB. MOJOKERTO GELAR PMB

Keluarga Kyai Misbah termasuk moderat, memadukan dua kultur berbeda. Kyai Misbah berkultur Muhammadiyah, sedang Bu Nyai Misbah kultur NU di Tuban. Tetapi meskipun begitu, di keluarga besarnya tidak tampak perbedaan itu.
Beberapa kali saya diminta menjadi keluarga beliau menjadi Qori’ ceramah Halal Bi Halal keluarga, hingga khutbah nikah. Bahkan pernah saya diminta ‘garu’ qori’ dan khutbah nikah. Mereka tahu meski saya kader NU, keluarganya tidak mempermasalahkan.

Pengalaman qori pertama saya di rumah bersejarah di Jl. Trunojoyo sebelum dilepas ke pihak ketiga karena pajak terlalu mahal. Saat itu pajaknya saja 6 juta. Rumah itu sekaligus mengingatkan guru saya alm. Ustd. Abd. Syakur Sanawi. Saya pernah diajak beliau ta’ziyah wafatnya Kyai Misbah di rumah duka ini. Ustdz. Syakur pernah direkom kyai Misbah jadi petugas haji dari unsur MUI karena beliau ngaji rutin di Al Falah.

Sikap egaliter yang ditanamkan Kyai Misbah ini membawa Kyai Suyuti Misbah dekat dengan aktifis dan kyai NU. Maka tak heran jika beliau pernah mengajar di Universitas Sunan Giri Surabaya (Unsuri). Kedekatan dengan kyai berlatar NU dibuktikan dengan hubungan yang baik dengan Kyai Abd. Shomad Bukhori.

Bersama Yai Shomad, beliau (putra salah satu Kakanwil pertama Jatim) pernah membesarkan Majelis Ulama Imdonesia (MUI) dan Lembaga Pengembangan Tilawatil Quran (LPTQ) Jawa Timur. Di LPTQ Jatim, beliau lama menangani cabang Cerdas Cermat Al Quran atau Musabaqah Fahmil Quran (MFQ). Beliau sempat mengutarakan keinginan mengkader saya masuk tim ini. Tapi waktu itu saya bilang, “Berat Ba, kulo niki boten saget npo-nopo, boten pantes kulo”.
Perlajaran penting dari sosok beliau adalah tidak ambisius dalam jabatan. Jika mau, beliau sangat mungkin menjadi Kepala Kemenag Kab. Kota di Jatim saat itu. Tapi beliau lebih memilih Widyaiswara. Beliau ‘entengan’, suka membantu orang. Menjadi kepuasan tersendiri jika sudah bisa membantu orang.”Khairunnnas anfa’uhum linnas”.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *